Senin, 26 September 2011

PENGARUH KOMPOSISI BAHAN OLAH KARET TERHADAP TINGKAT KONSISTENSI PLASTISITAS RETENSION INDEKS (PRI) KARET REMAH SIR 20 DI PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE DOLOK MERANGIR.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan keterbatasan getah mangkok yang dihasilkan, maka PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate untuk pengolahan Crumb Rubber SIR 20 membeli getah mangkok yang berasal dari rakyat (OP). Dengan perbandingan komposisi bahan baku yaitu getah mangkok yang digunakan untuk proses pengolahan Crumb Rubber SIR 20  maka Crumb Rubber yang dihasilkan harus memenuhi spesifikasi tekhnis yang telah ditentukan yaitu Standart Indonesia Rubber (SIR) salah satunya adalah nilai PRI.
Bahan baku yang digunakan merupakan syarat utama untuk memperoleh nilai PRI yang tinggi, berdasarkan hasil kerja praktek yang dilakukan, bahwa jenis bahan baku sangat berperan dalam penentuan mutu rubber SIR 20. Persentase bahan baku yang diolah di PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate yaitu bahan baku dari kebun PT. BSRE sebanyak 35 – 40 %, dan bahan baku beli dari luar sebanyak 60 – 65 %.
Nilai PRI yang telah ditentukan Standart Indonesia Rubber (SIR) untuk karet remah SIR 20 yaitu minimal 50, mempunyai kadar kotoran maksimal 0,20 %, dan kadar abu maksimal 1,00 %. Nilai PRI dapat memberikan gambaran mengenai ketahanan oksidasi dari karet yang bersangkutan dalam proses pengerjaan selanjutnya.

Untuk SIR 20 yang umumnya diolah dari koagulan kebun (field coagulan) maka tingginya nilai PRI ditentukan olah bahan penggumpal yang digunakan, tingkat pemeraman (maturation) dan kondisi pengeringannya.
Agar diperoleh konsistensi mutu karet remah yang baik khususnya nilai plastisitas retension indeks yang konstan seharusnya sebuah pabrik melakukan beberapa hal diantaranya, melakukan pengawasan terhadap penggunaan bahan olah berserta pengkombinasiannya, melakukan pengawasan yang kontiniu terhadap proses pencucian, pemblendingan dan pengeringan karet remah.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul dalam karya ilmiah ini adalah: PENGARUH KOMPOSISI BAHAN OLAH KARET TERHADAP TINGKAT KONSISTENSI PLASTISITAS RETENSION INDEKS (PRI) KARET REMAH SIR 20 DI PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE DOLOK MERANGIR. 









B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Adapun maksud penulis melaksanakan kerja praktek pada unit pengolahan karet di PT. BRIDGESTONE SUMATERA RUBBER ESTATE adalah:
a.       Mempelajari bagaimana suatu pabrik yang beroperasi secara komersil yang dioprasikan secara semestinya untuk memproduksi crumb rubber SIR 20.
b.      Untuk mengetahui berapa komposisi bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan nilai PRI yang paling baik.
2. Tujuan
Sebagai petunjuk terhadap perbandingan komposisi bahan baku yang digunakan dalam proses pengolahan crumb rubber SIR 20 sehingga nilai Plasticity Retention Index (PRI) yang diperoleh sesuai dengan standart mutu yang diinginkan.





C. Kegunaan dan Manfaat
1. Kegunaan
a.       Untuk mengetahui hasil perbandingan komposisi bahan baku terhadap nilai Plasticity Retention Index (PRI) pada proses pengolahan crumb rubber SIR 20.
b.      Untuk memberi dan pengembangan wawasan  teknologi yang menyangkut perbandingan komposisi bahan baku terhadap nilai Plasticity Retention Index (PRI) dalam pengolahan crumb rubber SIR 20.
2. Manfaat
a.       Dengan menggunakan perbandingan komposisi bahan baku yang sesuai pada proses pengolahan crumb rubber SIR 20 maka nilai Plasticity Retention Index (PRI) yang dihasilkan akan sesuai dengan Standart Indonesia Rubber (SIR).
b.      Dapat memberikan masukan bagi pabrik atau industri dalam peningkatan mutu hasil produksi.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Karet
            Karet adalah komoditi homogen yang cukup baik. Karet mempunyai daya lentur yang sangat tinggi, kekuatan tarik dan dapat dibentuk dengan panas yang rendah, daya tahan terhadap benturan, goresan dan koyakan yang sangat baik. Sifat fisika dan daya tahan karet dipakai untuk produksi-produksi pabrik yang membutuhkan kekuatan yang tinggi dan panas yang rendah, misalnya ban mobil dan kendaraan lain serta produksi teknik yang memerlukan daya yang sangat tinggi.
            Karet merupakan suatu polimer isoprena. Polimer isoprena atau 2-metil- butadiena (C5H8) tersebut terdiri dari unit-unit isoprena yang membentuk rantai panjang dan jumlahnya yang sangat banyak. Rantai polimer isoprena tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
     -  CH2 – C  = C    CH2  -  CH2 – C  = C    CH2  -

     CH3    H                          CH3     H                        n          
Gambar 1. Rumus bangun cis 1,4 polyisoprena
            Semakin panjang rantai isoprena maka karet akan stabil. Bila rantai polimer isoprena ini mengalami oksidasi maka rantainya akan putus menjadi rantai polimer yang pendek dan disamping itu protein yang melapisi butiran-butiran karet akan turun terganggu akibatnya lateks akan tidak stabil.
            Berat molekul karet tidak tetap karena harga n tidak tentu, dimana harga n rata-rata 200 - 400. Dengan menggunakan mikroskop elektron besar dan bentuk butiran karet dapat dilihat yaitu berbentuk butiran telur. Karet merupakan senyawa organik sehingga tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan organik.
            Sehingga dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, karet alam dapat disintetis, akan tetapi kegunaan dari karet alam ini tidak dapat  digantikan oleh karet sintetis, ini disebabkan nilai PRI dari karet alam lebih baik dari pada karet buatan (sintetis).
  1. SIR (Standart Indonesia Rubber)
SIR dan sifat kerja perlu diketahui untuk memperkirakan penggunaan karet tersebut sebagai bahan jadi. Penilaian terhadap mutu SIR didasarkan pada beberapa parameter antara lain: Kadar abu, Kadar kotoran, Kadar zat menguap, Nilai PRI, dan Kadar nitrogen.
Tinggi rendahnya masing-masing unsur tersebut diatas dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi bahan baku dan cara-cara pengolahannya. (Sumber: anonim, Goodyear sumatera plantation, sunaryo, 1995).
2. Plasticity Retention Index (PRI)
Platicity retention index adalah nilai dari sifat plastisitas (keliatan/kekenyalan) karet yang mentah yang masih tersimpan bila karet dipanaskan selama 30 menit pada temperatur 140oC.
Nilai Plasticity Retention Index adalah persentase plasisitas karet setelah dipanaskan dibandingkan plastisitas sebelum dipanaskan yang ditentukan dengan alat Plastimeter Wallace, dengan persamaan:
    
Dimana : Pa = Plastisitas karet sesudah dipanaskan selama 30 menit (setelah             pengusangan)
                        Po   =   Plastisitas karet sebelum dipanaskan (sebelum pengusangan).
(Sumber : Anonim Goodyear sumatera plantation, 2001, Asmir Harun, 1980, Sunaryo, 1995).
          Tujuan pengujian PRI dilakukan untuk mengukur degrandasi atau penurunan ketahanan karet mentah terhadap oksidasi pada suhu tinggi, nilai PRI yang tinggi (lebih dari 80%) menunjukan bahwa nilai ketahanan karet terhadap oksidasi adalah besar. Oksidasi karet oleh udara (O2) terjadi pada ikatan rangkap molekul karet, yang akan berakhir dengan pemutusan ikatan rangkap karbon-karbon sehingga panjang rantai polimer semakin pendek.
Terpetusnya rantai polimer pada karet mengakibatkan sifat karet menjadi rendah. Bila nilai PRI diketahuai, dapat diperkirakan mudah atau tidaknya karet mudah menjadi lunak atau lengket jika lama disimpan atau dipanaskan. Hal ini berhubungan dengan vulkanisasi karet pada pembuatan barang jadi, agar diperoleh sifat dari barang jadi karet yang lebih kuat. (Sumber: Anonim. Goodyear sumatera plantation, 2001).
            Tinggi rendahnya nilai PRI dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang digunakan dan proses pengolahan crumb rubber. Terdapatnya nilai PRI yang rendah, disebabkan karena terjadinya reaksi oksidasi pada karet. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya oksidasi pada karet antara lain adalah:
a. Sinar Matahari
           Sinar matahari mengandung sinar ultraviolet yang menggiatkan terjadinya oksidasi pada karet apabila bahan baku lateks dan koagulum tekena langsung oleh sinar matahari, hal ini ditandai dengan mengeringnya kulit permukaan lateks dan koagulum.
b. Pengenceran lateks dan Koagulum (penggumpalan)
           Pengenceran lateks dengan penambahan air yang terlalu banyak dan perendaman dengan air yang terlalu lama yang tujuannya untuk mencuci kotoran-kotoran yang melekat pada koagulum. Hal ini akan menurunkan konsentrasi zat-zat nonkaret didalam lateks seperti terlarutnya asam-asam amino yang berfungsi sebagai anti oksidasi dan dapat juga berfungsi sebagai bahan pemacu cepat pada pembuatan barang jadi karet yang selanjutnya menurunkan PRI pada karet.





c. Zat-zat pro-oksidasi (tembaga atau mangan)
           Kandungan ion-ion logam seperti Cu, Mg, Mn, dan Ca berkolerasi dengan kadar abu didalam analisa karet.
Kadar abu diharapkan rendah karena sifat logam tembaga (Cu) dan mangan (Mn) adalah zat pro-oksidasi yang dalam bentuk ion merupakan katalis reaksi oksidasi pada karet sehingga dalam jumlah yang melewati batas konsentrasinya akan merusak mutu karet, sehingga oksidasi dipercepat dan mengakibatkan nilai PRI karet menjadi rendah.
d. Pengering karet
Penguraian molekul karet oleh reaksi oksidasi dapat pula terjadi bila karet dikeringkan terlalu lama dan temperatur pengeringan yang dipakai adalah 127oC, dengan waktu pengeringan 2 - 4 jam tergantung pada jenis alat pengeringan.
Nilai PRI akan turun bila terjadi ikatan silang (Storage Hardening) didalam lateks kebun dan diantara butiran-butiran karet hasil pengeringan. Ikatan silang terjadi pada pembentukan gel secara perlahan-lahan sehingga butiran-butiran karet menjadi melendir dan lengket-lengket. Hal ini akan menyebabkan plastisitas karet Po karet, maka akan merubah nilai PRI karet sehingga menjadi turun. (Sumber : Asmir Harun, 1980, Oppusunggu M dan Rusdhant Dalimunthe, 1992)



B. Bahan Baku Karet
            Keanekaragaman bahan baku karet mengakibatkan mutu SIR yang dihasilkan tidak tepat dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk melakukan proses pencampuran dan membuang kontaminasi pada bahan baku karet tersebut. Ketetapan mutu SIR yang dihasilkan merupakan salah satu faktor penting untuk dapat bersaing merebut pasar diluar negeri atau konsumen.
            Menurut pengolahan bahan baku karet di indonesia dapat dibagi 4 macam yaitu:
  1. Lateks Kebun
Lateks adalah cairan yang didapat dari bidang sadap pohon karet. Cairan getah ini belum mengalami penggumpalan, baik dengan bahan tambahan maupun tanpa bahan tambahan.
Bahan baku lateks dapat diolah menjadi berbagai jenis karet yang bermutu tinggi antara lain:
a.       Lateks pekat
b.      RSS (Rubber Slab Slipe)
c.       SIR 3 CV (Constan Viskosity)
d.      SIR 3 L (Light)




  1. Sheet Angin
Sheet angin adalah bahan baku karet dibuat dari lateks yang telah disaring dan digumpalkan dengan Formid Acid (Cuka), kemudian digiling hingga berbentuk lembaran dengan ketebalan 2 - 4 mm berupa hasil pengolahan lateks melalui proses: pengenceran, penggumpalan, penggilingan, pengeringan, secara dianginkan.
  1. Slab
Slab adalah bahan baku karet yang terbuat dari lateks yang telah digumpalkan dengan formid acid. Slab mempunyai ukuran lebih kurang (60 x 30 x 20) cm.
Bahan baku slab dapat diolah menjadi:
a.       SIR 5
b.      SIR 10
c.       SIR 20
Slab yang baik harus memenuhi ketentuan dan kriteria sebagai berikut:
1)        Kadar kotoran maksimum 0,030%.
2)      Kadar abu maksimum 0,50%.
3)      Tidak terkontaminasi dengan tanah, lumpur, tatal, daun, pupuk (TSP), bahan kimia lain selain formid acid, besi, kawat, goni, plastik, dll.
4)      Selama disimpan tidak boleh terendam dengan air atau terkena matahari secara langsung.

  1. Getah Mangkok (Cup Lump)
Cup lump yaitu bekuan lateks dalam mangkok sadap (tempurung). Jenis produksi karet yang dihasilkan seperti SIR 20 dan SIR 20 CV. Cup lump yang diolah dapat berasal dari perkebunan sendiri atau pembelian dari luar (OP/Out Purchase). Lump mangkok yang berasal dari luar (OP) dibeli dari perkebunan rakyat yang dibedakan atas 3 jenis yaitu C1, C2, dan C3.
a. Getah Mangkok Rakyat (OP)
Dewasa ini berbagai jenis bahan baku karet yang dihasilkan oleh petani karet dengan jenis mutu yang sangat berbeda akibat cara penanganan ditingkat petani karet beranekaragam. Keanekaragaman mutu bahan baku karet ini mengakibatkan mutu SIR yang dihasilakan kurang tepat dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk melakukan proses pencampuran dam membuang kotoran pada bahan tersebut. Ketentuan SIR yang dihasilkan merupakan salah satu faktor penting dalam pengolahan bahan baku yang baik.
Pemeliharaan yang baik memperlihatkan karet perkebunan lebih banyak menghasilkan jika dibandingkan dari karet perkebunan rakyat, yang arealnya besar akan tetapi hasilnya kecil atau sedikit. Karet rakyat umumnya tidak terpelihara dan penanamannya tidak teratur dan terkendali. Sehingga karet yang dihasilkan masih banyak mengandung kontaminan yang tinggi, karena getah mangkok yang dihasilkan cara penggumpalan yang dilakukan sering menggunakan penggumpalan lain selain formid acid.
Karena penggumpalan seperti pupuk TSP, getah nanas, dan lainnya mempunyai harga yang relatif murah dibandingkan mereka yang menggunakan formid acid sebagai penggumpal.
 Getah mangkok yang bersumber dari rakyat atau disebut getah rakyat memiliki kriteria sebagai berikut:
1)        Getah mangkok C1
Getah mangkok C1 adalah getah mangkok lapangan yang telah digumpalkan dengan formad acid atau secara ilmiah dalam mangkok sadap. Mempunyai kriteria sebagai berikut:
a)      Tidak boleh terkontaminasi dengan tanah, lumpur, tatal tidak lebih dari 5 pcs per bongkah, daun, besi, kawat, batu, goni, plastik, dll.
b)      Kadar kotoran harus maksimum 0,10%
c)      Kadar abu harus maksimim 0,75%
d)     Tidak tercemar dengan pupuk TSP, bahan kimia lainnya selain formid acid.
2)        Getah Mangkok C2
Getah mangkok C2 adalah getah mangkok lapangan atau getah mangkok kampung yang telah digumpalkan dengan formid acid atau secara ilmiah didalam mangkok sadap. Didalam getah mangkok C2 ini banyak mengandung kontaminan seperti tatal, pasir, plastik, dari kandungan kontaminan yang dihasilkan dari getah mangkok ini maka digolongkan kedalam getah mangkok C2.
Mempunyai kriteria sebagai berikut:
a)      Tidak terkontaminasi dengan tanah, lumpur, tatal, pasir, besi, dsb.
b)      Kadar kotoran maksimum 0,20%.
c)      Kadar abu maksimum 1,0%.
b. Getah Mangkok Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE)
Getah mangkok Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE) merupakan getah mangkok yang berasal dari kebun perusahaan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate. Getah mangkok yang dihasilakan digumpalkan dengan formid acid 5% tidak menggunakan penggumpalan yang lainnya dan menjaga kebersihannya. PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate mempunyai perkebunan karet sendiri, dimana kebun karet tersebut hanya menghasilkan getah mangkok yang berkualitas baik.
Getah mangkok yang dihasilkan digumpalkan dengan formid acid atau asam semut, karena sangat baik untuk menggumpalkan lateks, dan kwalitasnya sangat baik bila diolah untuk membuat crumb rubber SIR 20, tidak banyak mengandung  kontaminan seperti tatal, pasir, dll.
Dengan sedikitnya kandungan kontaminan maka getah mangkok BSRE yang dihasilkan sangat mahal bila dibandingkan dengan getah mangkok dari perkebunan rakyat.


Getah mangkok BSRE ini sengaja dihasilakan dengan kualitas yang baik untuk membantu dalam pengolahan crumb rubber yang baik, BSRE mencampur getah mangkok BSRE dengan getah mangkok yang dibeli dari rakyat (OP), agar memperoleh hasil yang sesuai dengan mutu standart / SIR.
Getah mangkok yang dihasilkan BSRE tidak diperdagangkan keluar pabrik karena hasil yang dimiliki BSRE sangat terbatas, jadi getah mangkok BSRE digunakan untuk mengolah crumb rubber diperusahaan PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate sendiri.
Getah mangkok BSRE mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.       Tidak terkontaminasi oleh lumpur, tanah, pasir, tatal, dan lain-lain.
b.      Kadar kotoran maksimum 0,03%.
c.       Kadar abu maksimum 0,5%.

Dalam proses pengolahan crumb rubber PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate tidak hanya menggunakan getah mangkok BSRE tetapi juga menggunakan getah mangkok C1 (OP) mengingat dari segi keekonomisannya. Dimana bahan baku getah mangkok C1 (OP) lebih murah dari pada getah mangkok BSRE.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar